Sabtu, 25 Agustus 2012

Mengolah Limbah Ternak Kelinci menjadi Pupuk Organik


Usaha peternakan kelinci selain menghasilkan produk utama berupa daging, bulu (wool), dan kulit bulu (fur), juga menghasilkan produk sampingan berupa limbah yaitu feses (kotoran) dan sisa-sisa pakan, limbah tersebut apabila tidak dikelola dan ditangani dengan baik berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan, Feses kelinci dan sisa-sisa pakan berupa konsentrat (pellet) dan hijauan merupakan limbah organik yang masih banyak mengandung unsur-unsur nutrisi yang cukup tinggi. Limbah tersebut memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan atau diolah menjadi bahan yang lebih berguna dan mempunyai nilai ekonomis
Salah satu cara pengolahan limbah organik yang cukup sederhana yaitu dengan teknologi pengomposan (composting). Pengomposan adalah proses perombakan (dekomposisi) bahan-bahan organik dengan memanfaatkan peran atau aktivitas mikroorganisme. Melalui proses tersebut, bahan-bahan organik akan diubah menjadi pupuk kompos yang kaya dengan unsur-unsur hara baik makro ataupun mikro yang sangat diperlukan oleh tanaman.
Proses pengomposan pada umumnya dilakukan secara konvensional yaitu yang dilakukan secara alami tanpa bantuan aktivator sehingga prosesnya memakan waktu yang cukup lama. Oleh karena itu untuk mempersingkat waktu, maka proses pengomposan dilakukan dengan menambahkan aktivator kedalam bahan komposan. Aktivator merupakan bahan yang dapat mempercepat proses pengomposan atau perombakan bahan-bahan organik. Salah satu bahan aktivator yang sudah lama dikenal dan banyak beredar di pasaran yaitu EM4 (Effective Mikroorganisms4). EM4 adalah suatu bahan aktivator berupa larutan yang mengandung mikroorganisme fermentatif yang dapat bekerja secara efektif dalam merombak bahan-bahan organik. EM4 (Effective Mikroorganisms4) ialah suatu kultur campuran mikroorganisme bakteri fotosintetik, Lactobacillus sp., Streptomyces sp., ragi (yeast), danActinomycetes (APNAN, 1995), sedangkan menurut Wididana dan Higa (1993), EM4 merupakan suatu kultur campuran dalam medium cair berwarna coklat kekuning-kuningan, berbau asam, dan terdiri atas bakteri asam laktat, bakteri fotosintetik, Actinomycetes, khamir (ragi), dan jamur yang semuanya menguntungkan.
Feses kelinci maupun sisa-sisa pakan berupa konsentrat (pellet) merupakan limbah organik yang banyak mengandung unsur nitrogen (N), sedangkan untuk mencapai nisbah C/N yang ideal dalam proses pengomposan diperlukan campuran bahan organik lainnya yang mengandung sumber karbon (C). Salah satu bahan organik yang mengandung sumber karbon yang cukup tinggi yaitu serbuk gergaji albasia. Serbuk gergaji albasia adalah limbah organik yang berasal dari hasil penggergajian kayu albasia (Albizzia falcata). Nisbah C/N merupakan perbandingan unsur karbon dan nitrogen yang terdapat dalam suatu bahan organik. Kedua unsur tersebut digunakan oleh mikroorganisme sebagai sumber energi dan bahan sintesis sel-sel baru. Nisbah C/N sangat penting untuk diperhatikan karena berpengaruh langsung terhadap kehidupan mikroorganisme yang berperan dalam proses pengomposan. Nisbah C/N dalam bahan komposan yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat menghambat laju pertumbuhan mikroorganisme, akibatnya proses pengomposan menjadi terganggu dan berjalan lambat sehingga akan berpengaruh terhadap produksi dan penyusutan bahan komposan.
Di dalam pengomposan akan terjadi perubahan yang dilakukan oleh mikroorganisme, yaitu berupa penguraian selulosa, hemiselulosa, lemak, serta bahan lainnya menjadi karbondioksida (CO2) dan air. Dengan adanya perubahan-perubahan tersebut, maka bobot dan isi bahan dasar kompos akan menjadi berkurang antara 40 – 60 %, tergantung bahan dasar kompos dan proses pengomposannya (Musnamar, 2007), sedangkan menurut Yuwono (2005), pengomposan secara aerobik akan mengurangi bahan komposan sebesar 50 % dari bobot awalnya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses biologis dalam pengomposan adalah nisbah C/N, kadar air, ketersediaan oksigen, mikroorganisme, temperatur, dan pH, namun dari faktor-faktor yang mempengaruhi pengomposan tersebut yang terpenting adalah rasio unsur C dan N dalam bahan komposan (Merkel, 1981). Menurut Yuwono (2005), Kisaran perbandingan unsur C dan N dalam bahan komposan yang optimum untuk proses pengomposan ialah antara 25 – 30 merupakan nilai perbandingan unsur C dan N yang terbaik sehingga bakteri dapat bekerja sangat cepat. Sedangkan menurut Djuarnani, dkk. (2005) proses pengomposan yang baik rasio C/N antara 20 – 40, namun rasio C/N yang ideal bagi kehidupan mikroorganisme dalam proses pengomposan ialah sebesar 30 (Kadar air (kelembaban) yang ideal untuk proses pengomposan adalah sebesar 50 – 60 %, dengan pH optimum antara 6 – 8.
(Dari berbagai sumber-wd)
www.kopnakci.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...