Kamis, 15 Maret 2012

Kisah Anak Bisu Yang Sholeh


Kisah nyata di zaman ini. Seorang penduduk Madinah berusia 37 tahun, telah menikah, dan mempunyai beberapa orang anak. Ia termasuk orang yang suka lalai, dan sering berbuat dosa besar, jarang menjalankan shalat, kecuali sewaktu-waktu saja, atau karena tidak enak dilihat orang lain.

Penyebabnya, tidak lain karena ia bergaul akrab dengan orang-orang jahat dan para dukun. Tanpa ia sadari, syetan setia menemaninya dalam banyak kesempatan.


Ia bercerita mengisahkan tentang riwayat hidupnya: ”Saya memiliki anak laki-laki berusia 7 tahun, bernama Marwan. Ia bisu dan tuli. Ia dididik ibunya, perempuan shalihah dan kuat imannya. Suatu hari setelah adzan maghrib saya berada di rumah bersama anak saya, Marwan. Saat saya sedang merencanakan di mana berkumpul bersama teman-teman nanti malam, tiba-tiba, saya dikejutkan oleh anak saya. Marwan mengajak saya bicara dengan bahasa isyarat yang artinya, “Mengapa engkau tidak shalat wahai Abi?” Kemudian ia menunjukkan tangannya ke atas, artinya ia mengatakan bahwa Allah yang di langit melihatmu.

Terkadang, anak saya melihat saya sedang berbuat dosa, maka saya kagum kepadanya yang menakut-nakuti saya dengan ancaman Allah. Anak saya lalu menangis di depan saya, maka saya berusaha untuk merangkulnya, tapi ia lari dariku. Tak berapa lama, ia pergi ke kamar mandi untuk berwudhu, meskipun belum sempurna wudhunya, tapi ia belajar dari ibunya yang juga hafal Al-Qur’an. Ia selalu menasihati saya tapi belum juga membawa faidah. Kemudian Marwan yang bisu dan tuli itu masuk lagi menemui saya dan memberi isyarat agar saya menunggu sebentar, lalu ia shalat maghrib di hadapan saya. Setelah selesai, ia bangkit dan mengambil mushaf Al-Qur’an, membukanya dengan cepat, dan menunjukkan jarinya ke sebuah ayat (yang artinya): “Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa adzab dari Allah Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaithan” (Maryam: 45).

Kemudian, ia menangis dengan kerasnya. Saya pun ikut menangis bersamanya. Anak saya ini yang mengusap air mata saya.Kemudian ia mencium kepala dan tangan saya, setelah itu berbicara kepadaku dengan bahasa isyarat yang artinya, “Shalatlah wahai ayahku sebelum ayah ditanam dalam kubur dan sebelum datangnya adzab!


“Demi Allah, saat itu saya merasakan suatu ketakutan yang luar biasa. Segera saya nyalakan semua lampu rumah. Anak saya Marwan mengikutiku dari ruangan satu ke ruangan lain sambil memperhatikan saya dengan aneh. Kemudian, ia berkata kepadaku (dengan bahasa isyarat),”Tinggalkan urusan lampu, mari kita ke Masjid Besar (Masjid Nabawi).” Saya katakan kepadanya, “Biar kita ke masjid dekat rumah saja.” Tetapi anak saya bersikeras meminta saya mengantarkannya ke Masjid Nabawi.


Akhirnya, saya mengalah kami berangkat ke Masjid Nabawi dalam keadaan takut. Dan Marwan selalu memandang saya.Kami masuk menuju Raudhah. Saat itu Raudhah penuh dengan manusia, tidak lama datang waktu iqamat untuk shalat isya’, saat itu imam masjid membaca firman Allah (yang artinya),”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syetan, maka sesungguhnya syetan itu menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan munkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui” (An-Nuur: 21).


Saya tidak kuat menahan tangis. Marwan yang berada disampingku melihat aku menangis, ia ikut menangis pula. Saat shalat ia mengeluarkan tissue dari sakuku dan mengusap air mataku dengannya.Selesai shalat, aku masih menangis dan ia terus mengusap air mataku. Sejam lamanya aku duduk, sampai anakku mengatakan kepadaku dengan bahasa isyarat, “Sudahlah wahai Abi!” Rupanya ia cemas karena kerasnya tangisanku. Saya katakan, “Kamu jangan cemas.” Akhirnya, kami pulang ke rumah. Malam itu begitu istimewa, karena aku merasa baru terlahir kembali ke dunia.


Istri dan anak-anakku menemui kami. Mereka juga menangis, padahal mereka tidak tahu apa yang terjadi.


Marwan berkata tadi Abi pergi shalat di Masjid Nabawi. Istriku senang mendapat berita tersebut dari Marwan yang merupakan buah dari didikannya yang baik.


Saya ceritakan kepadanya apa yang terjadi antara saya dengan Marwan. Saya katakan,”Saya bertanya kepadamu dengan menyebut nama Allah, apakah kamu yang mengajarkannya untuk membuka mushaf Al-Qur’an dan menunjukkannya kepada saya?” Dia bersumpah dengan nama Allah sebanyak tiga kali bahwa ia tidak mengajarinya. Kemudian ia berkata, “Bersyukurlah kepada Allah atas hidayah ini.” Malam itu adalah malam yang terindah dalam hidup saya.

Sekarang Alhamdulillah saya selalu shalat berjamaah di masjid dan telah meninggalkan teman-teman yang buruk semuanya. Saya merasakan manisnya iman dan merasakan kebahagiaan dalam hidup, suasana dalam rumah tangga harmonis penuh dengan cinta, dan kasih sayang.Khususnya kepada Marwan saya sangat cinta kepadanya karena telah berjasa menjadi penyebab saya mendapatkan hidayah Allah.”
http://www.binhakim.com/2012/01/kisah-seorang-anak-bisu-yang-sholeh.html

Read More......

Selasa, 13 Maret 2012

“Ah, semua orang lebih fakih dari aku.”

Group Oase Imani
Laman Oaseimani.com

Tue, Aug 16, 2011

Tajribah


Dalam hidup ini, Allah pasti jumpakan kita dengan orang-orang yang luar biasa. Kalau kita tidak bisa mengeja tarbiyah-Nya, itu murni karena kekurangpekaan kita, atau kita malah sudah mati rasa sehingga tidak bisa mengambil pelajaran dari kejadian yang ada disekitaran kita. “Fa`tabirû yâ ulî l-abshâr.”Karenanya, belajar dari episode kehidupan di sekeliling kita adalah sebuah kemustian agar kita menjadi lebih baik, dari waktu ke waktu.

Semoga kisah-kisah berikut ini bermanfaat :

Siang itu, ada sms yang masuk, “Akh, ana minta dijemput di masjid al Karim, -Pabelan.”

Mendapatkan sms dari seorang teman yang baru selesai dari acara outbondnya, aku langsung menuju tempat yang dimaksud. Sesampainya di sana, aku tidak mendapati temanku. Langsung saja aku balik kirim sms, “Antum dimana? Sudah sampai mana?”

Beberapa detik kemudian, ada jawaban yang muncul di layar hape K310-ku, “Ana masih di perjalanan. Kira-kira seperempat jam lagi.” Ah, berarti aku harus menunggu dulu. Kenapa tidak memberitahu bahwa ia belum sampai masjid ini, dan memberi keterangan sampai seperempat jam kemudian. But, no problem lah. Akhirnya, masa menunggu itu aku pergunakan untuk beristirahat dengan merebahkan tubuhku di atas lantai masjid bagian depan.

Ketika tengah merebahkan badan, ada seorang ibu yang tengah melewati pintu gerbang masjid. Ia berpakaian kumal, tertambal sana-sini tidak karuan. Kelelahan tersirat jelas dari raut wajahnya karena berjalan tanpa tujuan. Ia pun tampak kelaparan. Entah berapa kali ia tidak makan. Melihatku, ia beranikan diri meminta. Dari jarak sekitar 4 meter itu –jarak gerbang dengan serambi masjid-, ia menengadahkan tangannya, dan berkata memelas, “Mas, minta uangnya.” Langsung. Polos. Tanpa basa-basi.

Sejenak aku mengamatinya, dan memintanya untuk mendatangi tempatku berbaring. Ia mendekat, dan aku bangkit dari tidurku kemudian merogoh kantong. Kuberi uang dua lembar seribuan. Hanya 2000 rupiah. Seperti biasa, ia berucap terima kasih. Tetapi ada yang istimewa dari sekedar terima kasihnya. Ternyata ia membaca, “Alhamdulillah, subhanalllah.” Sambil melihat-lihat uang dua ribu yang sangat berharga, menurutnya.

Ia memegang erat-erat uang dua ribu itu, dan menimang-nimangnya seolah mendapatkan sesuatu yang diidamkan. Ia terus berucap hamdalah dan tasbih tanpa henti. Bahkan ketika berada di pintu gerbang masjid pun, ia masih menatapku seolah menyiratkan rasa terima kasihnya yang amat sangat. Selain itu, ia juga masih melihat uang dua ribu itu, sembari meletakkan di depan dadanya dan masih berucap, “Alhamdulillah, subhanallah.” Berulang-ulang.

Ucapnya, “Alhamdulillah, subhanallah.” berulang-ulang itu benar-benar menegurku. Dalam hati, kuberucap lirih, “Subhanallah.” Ah, semua orang memang lebih fakih daripada aku…..

Dulu, ada seorang tukang angkut air yang selalu berucap tahmid dan istighfar. Satu waktu mengangkut air, ia berucap tahmid, dan waktu yang lain ia beristighfar. Selalunya begitu. Di tengah aktivitasnya mengangkut itu, ada seorang ulama` yang memperhatikannya. Dialah Hasan al Bashri, sayyidut tabi’in.

Beliau meminta lelaki itu untuk berkunjung ke rumahnya. Selama di rumah, beliau mengamati lisan tamunya dengan seksama. Ada dzikir yang senantiasa keluar dari lisan tamunya. Beliau takjub dengan kebiasaan lelaki itu, dan hatinya tak bisa menahan untuk tidak bertanya. Tanyanya, “Kalau boleh tahu, sejak kapan anda selalu berucap tahmid dan istighfar setiap kali anda mengangkut air?” “Sudah lama.” Jawabnya. Beliau bertanya lagi, “Kenapa hanya dua kalimat thoyyibah itu saja?” ia menjawab, “Karena kita berada di antara dua hal; nikmat Allah yang harus kita syukuri dengan memuji-Nya, dan kelalaian yang selalu membersamai kita sehingga kita harus memohon ampunan-Nya.” beliau kembali bertanya, “Apa faedah dan manfaat yang kamu dapatkan dengan kebiasaanmu itu?” “Banyak. Tidak ada kebutuhan yang aku inginkan kecuali dikabulkan oleh Allah Ta’ala” jawabnya “Tetapi ada satu permintaan yang sampai saat ini belum diperkenankan.” “Apa itu?” Tanya Hasan al Bashri penasaran. Lelaki itu menjawab, “Aku belum pernah bertemu dengan orang yang kukagumi, Hasan al Bashri.”

Hasan al Bashri langsung memeluknya, dan memberitahukan bahwa beliaulah yang selama ini dicari-carinya. Lelaki itu terkejut, dan tak henti-henti memanjatkan puji syukur kepada Allah Ta’ala. Allah telah mengabulkan semua pintanya. Subhanallah. Dan ketika lelaki itu pulang, Hasan al Bashri tertegun, dan berkata, “Ah, semua orang lebih fakih dari Hasan, semua orang lebih fakih dari Hasan.”

Dalam kisah yang lain, tersebut sebuah kisah singkat tetapi mengandung pelajaran berharga. Umar bin Khattab radhiyallahu `anhu, khalifah kaum muslimin ke-dua, mendengarkan sebuah lantunan doa yang dipanjatkan oleh salah seorang rakyatnya. Doanya, “Ya Allah, jadikanlah aku golongan yang sedikit… Ya Allah, jadikanlah aku golongan yang sedikit…” begitu terus, berulang-ulang hingga Umar bin Khattab bosan mendengarnya. Beliaupun bertanya dengan suara keras, “Wahai hamba Allah, apa yang kamu maksudkan dengan doamu, “Ya Allah, jadikanlah aku golongan yang sedikit?” lelaki itu menjawab, “Aku ingin dimasukkan Allah menjadi golongan yang sedikit, karena Dia pernah berfirman, “Wa qalîlun min `ibadiya s-syakûr.” Dan memuji orang yang beriman, “Wa mâ âmana ma`ahu illâ qalîl.” Begitulah, aku ingin dimasukkan sebagai golongan yang sedikit yang dipuji oleh Allah.” Umar terdiam, dan pergi dengan berlinang airmata sembari berkata, “Kullu ahadin afqahu min Umar, Ah, semua orang lebih fakih dari Umar, semua orang lebih fakih dari Umar.”

Saudaraku…, dalam mengarungi episode hidup ini, kita akan dipertemukan Allah dengan orang-orang yang memiliki amalan yang mungkin tidak kita miliki. Ada amal-amal andalan yang mereka punya. Seperti halnya rizki, dimana semua orang diberi sesuai dengan ketentuan Dzat yang memiliki perbendaharaan langit dan bumi, maka begitu pula dengan amal. Masing-masing sudah ditakdirkan memiliki amalan-amalan yang menjadi kelebihan mereka. Ada yang Allah mudahkan menjaga shalat berjama`ah dan shalat sunah rawatibnya, ada yang Allah mudahkan melaksanakan shalat malam, ada yang Allah mudahkan menangis karena Allah semata lantaran teringat semua dosa-dosa-nya hingga seolah-olah dosa seluruh manusia dibebankan kepadanya, ada yang Allah mudahkan bersedekah, ada yang Allah mudahkan berdzikir sepanjang waktunya, ada yang Allah mudahkan berbagi dengan orang lain, dan kemudahan-kemudahan dalam amal yang lainnya.

Imam Malik, sebagaimana dinukil oleh Imam adz Dzahabi dalam Siyaru A`lami n-Nubala` : VIII/116, berkata,

“Sesungguhnya Allah membagi amal perbuatan sebagaimana Allah membagi-bagi rezeki. Terkadang seorang dibuka pintu hatinya untuk banyak shalat, namun tidak dibukakan pintu hatinya untuk shaum. Yang lainnya dibukakan pintu hatinya untuk banyak bersedekah, namun tidak dibukakan pintu hatinya untuk banyak shaum. Ada juga orang yang dibukakan pintu hatinya untuk berjihad. Sementara menyebarkan ilmu adalah amal kebajikan yang paling utama, dan aku sudah merasa senang dengan dibukakannya pintu hatiku dalam hal itu.”

Dari sinilah, kita harus sadar diri; jangan ada anggapan bahwa diri kita lebih baik dari orang lain, hatta kepada orang yang kita anggap tak berpendidikan sekalipun, pun begitu juga kepada orang banci. Ada pesan indah dari Sirri as Saqathi yang diabadikan oleh Ibnul Jauzi dalam kitab monumentalnya, Shifatus shafwah. (Huem, maraji` andalan nieh ^_^).

جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ نَصِيْرٍ يَقُوْلُ : سَمِعْتُ الْجُنَيْدَ يَقُوْلُ : سَمِعْتُ السِّرِّيَّ قَالَ : مَا أَرَى لِيْ عَلَى أَحَدٍ فَضْلًا قِيْلَ : وَلَا عَلَى الْمُخْنِثِيْنَ؟ قَالَ : وَلَا عَلَى الْمُخْنِثِيْنَ

Ja’far bin Muhammad bin Bashir berkata, Aku mendengar Junaid berkata, Aku mendengar Sari berkata, “Aku tidak pernah berpendapat bahwa aku memiliki keutamaan atas orang lain.” Ada yang bertanya, “Tidak juga atas orang-orang yang banci.” Beliau menjawab, “Tidak juga atas orang-orang yang banci.”

Karena, menganggap diri lebih baik dari orang lain, dan mengangap ada orang yang lebih buruk darinya adalah kesombongan. Nasehat Abu Yazid al Busthami, yang juga disebutkan oelh Ibnul Jauzi dalam kitab yang sama, Shifatus shafwah, perlu kita renungkan bersama,

وَقَالَ أَبُوْ يَزِيْدٍ: مَا دَامَ الْعَبْدُ يَظُنُّ أَنَّ فِي الْخَلْقِ مَنْ هُوَ شَرٌّ مِنْهُ فَهُوَ مُتَكَبِّرٌ.

Abu Yazid berkata, “Selama seorang hamba menganggap bahwa ada orang yang lebih buruk daripada dirinya maka ia adalah orang yang sombong.”

“Kullu ahadin afqahu min ikhwanuddin, Ah, semua orang lebih fakih daripada aku….”

Wallahu a`lam.

Salam ukhuwah dari akhukum fillah, Ibnu Abdil Bari el `Afifi.

Read More......

Makna Nama Tokoh Punokawan dalam Pewayangan Jawa

Apa makna yang terkandung dalam setiap tokoh punakawan ini? Mari kita amati satu persatu:
Semar: aslinya tokoh ini berasal dari bahasa arab Ismar. Dalam lidah jawa kata Is–biasanya dibaca Se. Ambillah contoh Istambul menjadi Setambul. Ismar berarti paku. Tokoh ini dijadikan pengokoh (paku) terhadap semua kebenaran yang ada atau sebagai. Advicer dalam mencari kebenaran terhadap segala masalah. Paku di sini dapat juga difungsikan sebagai pedoman hidup, pengokoh hidup manusia. Apa pengokoh hidup manusia itu? Tidak lain adalah agama. Sehingga, semar bukanlah tokoh yang harus dipuja, tapi penciptaan semar hanyalah penciptaan simbolisasi dari agama sebagai prinsip hidup setiap umat beragama.
Nala Gareng: juga diadaptasi dari kata Arab Naala Qariin. Dalam pengucapan lidah jawa pula kata Naala Qariin menjadi Nala Gareng. Kata Naala Qariin, artinya memperoleh banyak teman, ini sesuai dengan dakwah para wali sebagai juru dakwah untuk memperoleh sebanyak-banyaknya teman (umat) untuk kembali kejalan Allah SWT dengan sikap arif dan harapan yang baik.
Petruk: diadaptasi dari kata Fatruk. Kata ini merupakan kata pangkal dari sebuah wejangan Tasawuf yang berbunyi: Fat-ruk kulla maa siwallahi, yang artinya: tinggalkan semua apa pun selain Allah.Wejangan tersebut kemudian menjadi watak para wali dan mubalig pada waktu itu. Petruk juga sering disebut Kanthong Bolong artinya kantong yang berlobang. Maknanya bahwa setiap manusia harus menzakatkan hartanya dan menyerahkan jiwa raganya kepada Allah SWT secara ikhlas, tanpa pamrih dan ikhlas, seperti bolongnya kantong yang tanpa penghalang.
Bagong: berasal dari kata Baghaa yang berarti berontak. Yaitu berontak terhadap kebatilan dan keangkaramurkaan. Dalam versi lain kata Bagong berasal dari Baqa’ yang berarti kekal atau langgeng, artinya semua manusia hanya akan hidup kekal setelah di akhirat nanti. Dunia hanya diibaratkan mampir ngombe (sekadar mampir untuk minum).

Para tokoh punakawan juga berfungsi sebagai pamomong (pengasuh) untuk tokoh wayang lainnya. Pada prinsipnya setiap manusia butuh yang namanya pamomong, mengingat lemahnya manusia. Pamomong dapat diartikan pula sebagai pelindung. Tiap manusia hendaknya selalu meminta lindungan kepada Allah SWT, sebagai sikap introspeksi terhadap segala kelemahan dalam dirinya. Inilah falsafah sikap pamomong yang digambarkan oleh para tokoh punakawan.
Alangkah disayangkan jika beberapa tokoh punakawan seperti semar dipuja-puji layaknya dewa oleh sebahagian penganut aliran kepercayaan. Padahal jelas sekali semua tokoh yang ada hanyalah merupakan ciptaan para wali untuk menyimbolkan suatu keadaan dalam misi dakwah mereka menyebarkan Islam. Sebagai contoh Semar diceritakan sebagai seorang dewa (bathara Ismaya kakak bathara Guru) yang turun ke bumi dengan menjelma menjadi manusia biasa untuk menjalankan sebuah misi suci. Hal ini sebenarnya cukup tepat untuk menggambarkan cara Allah SWT menurunkan Islam pada umat manusia dengan tidak menghadirkan sosok Allah langsung sebagai Tuhan di muka bumi. Niscaya semua manusia akan menjadi Islam, jika Allah langsung menyebarkan Islam di bumi. Lalu di manakah letak kemerdekaan manusia, jika demikian? Manusia dibiarkan memilih semua ajaran yang ada. Mengingat, manusia diberikan kebebasan untuk menentukan nasibnya kelak di akhirat, sesuai dengan pilihannya di dunia. Maka, sosok Semar sebagai dewa pun harus dijelmakan sebagai sosok manusia dahulu, untuk tetap menjaga kodrat manusia sebagai makhluk yang bebas memilih. Lihatlah pula kata Semar Badranaya. Badra berarti kebahagiaan dan naya berarti kebijaksanaan. Untuk menuju kebahagiaan, yaitu dengan cara memimpin rakyat secara bijaksana dan menggiringnya untuk beribadah kepada Allah SWT. Negara akan stabil jika semar bersemayam di pertapaan Kandang Penyu. Maknanya adalah untuk mengadakan penyuwunan (penyu-) atau permohonan kehadiran Allah SWT. Jelas sekali misi dakwah yang terkandung di sini, yang diceritakan dan diartikan sendiri maknanya oleh sang pembuat

sumber : http://damaisasmita.blogspot.com/2011/02/punokawan.html
Diposkan oleh IROEL_edane puol di 21:55
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Read More......
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...