Kamis, 07 Oktober 2010

KEGIATAN PELAYANAN KESEHATAN HEWAN

Kecamatan Getasan merupakan salah satu sentra peternakan di kabupaten Semarang, meliputi peternakan rakyat yang dipelihara oleh warga setempat seperti sapi perah, sapi potong, kambing/domba, itik, ayam kampung. Dan juga peternakan yang dilakukan oleh pengusaha setempat ataupun pengusaha dari luar kecamatan getasan yang mempunyai peternakan di kecamatan getasan seperti babi, ayam layer dan ayam broiler.
Teknik pemeliharaan sapi di peternakan rakyat di wilayah kecamatan getasan hampir semuanya dikandangkan karena kurangnya lahan dan pakan hijaun ditanam dikebun masing-masing peternak dan sekitar hutan di lereng gunung merbabu.
Pelayanan kesehatan hewan di puskeswan Getasan dilakukan oleh dokter hewan dan paramedis secara rutin tiap hari. Pelayanan ini dilakukan secara aktif, semi aktif dan pasif. Pelayanan aktif berupa petugas mendatangi peternak secara langsung biasanya dilakukan bersamaan acara penyuluhan di tiap kelompok ternak pada saat-saat tertentu. Pelayanan yang paling sering adalah semi aktif dimana petugas mendapat laporan dari peternak baik secara langsung peternak datang ke puskeswan atau lewat handphone dan petugas mendatanginya. Dan pelayanan secara pasif berupa peternak membawa ternak ke puskeswan ini jarang dilakukan peternak tapi kadang dilakukan oleh para pedagang yang mau memeriksakan status reproduksinya atau pemeriksaan kebuntingan dan juga menerbitkan surat perjalanan ternak yang mau dijual.
Pada bulan Juni 2010 pelayanan lebih ditekankan pada pelayanan kesehatan hewan penyakit menular dan penyakit infeksius lainnya seperti BEF, mastitis, penyakit parasiter seperti helmintiasis dan scabies dan juga penyakit gangguan metabolik seperti milk fever karena kecamatan getasan adalah salah satu sentra peternakan sapi perah.
Pengamatan Penyakit
Beberapa penyakit yang masih muncul di kecamatan Getasan antara lain :
1. Helmintiasis dan scabies, helmintiasis adalah penyakit yang disebabkan oleh infestasi endoparasit berupa cacing baik nematodo, cestoda atau trematoda. Cacing- cacing ini menghisap sari-sari makanan dan ada juga yang bisa merusak jeringan, gangguan ini sangat merugikan karena akan membuat terhambatnya pertumbuhan hewan, penurunan berat badan dan juga diare intermiten. Pengobatan dan pencegahan secara berkala dengan program “Deworming” adalah sangat penting dilakukan untuk mengendalikan dan memberantas kasus ini. Kesadaran peternak yang masih perlu ditingkatkan walaupun ada beberapa peternak yang sudah mengerti dan memberikan obat cacing secara berkala masih diperlukan penyuluhan- penyuluhan sehingga kasus ini bisa ditekan. Sedangkan scabies adalah penyakit kudis menular yang disebabkan oleh ektoparasit sejenis sarcoptes scabei, Chorioptes Bovis. Di kecamatan Getasan hampir setiap tahun penyakit ini masih bisa ditemukan umumnya menyerang sapi dan kambing, hewan yang menderita akan mengalami gatal-gatal, keropeng pada kulit dan kerontokan rambut, dan juga penyakit ini bisa menular ke manusia. Pengobatan dengan cara pemberian injeksi Ivermectin 1% secara SC dan diulangi 2 minggu kemudian dan pembersihan kandang dengan insektisida sebelumnya hewan diisolasi.
2. Diare pedet dan Indigesti, dua masalah pencernaan ini yang terjadi pada bulan juni 2010. Diare pedet bisa disebabkan karena makan dedaunan yang muda, infeksi parasit, bakteri atau virus. Pengobatan dilakukan sesuai diagnosa penyebab penyakit apabila karena infestasi cacing pemberian albendazol sangat efektif, kadang-kadang coccidiosis yang menyebabkan diare berdarah pada pedet masih ditemukan. Infeksi bakteri seperti salmonela atau berak putih bisa berakibat fatal apabila tidak cepat diberikan pengobatan. Indigesti biasanya pada sapi yang diberi konsentrat banyak maka terjadi penurunan proses rumenasi (terjadi rumen sarat) atau tidak seimbangnya antara hijauan dan konsentrat.
3. Milk Fever dan paresis, pada peternakan sapi perah dimana produksi susu sapi tinggi setelah beranak biasanya akan mengalami gangguan metabolik berupa milk fever karena kekurangan kadar calsium, magnesium atau kalium dalam darah ditandai dengan rubuh tidak bisa berdiri beberapa jam sampai beberapa hari setelah melahirkan. Pemberian preparat calsium diberikan secara intra vena perlahan-lahan dan pemberian roboransia memberikan hasil yang baik pada kasus milk fever. Paresis adalah suatu kondisi kelemahan atau gangguan sistem saraf sehingga sapi tidak bisa beridiri, ini biasa terjadi sebelum atau sesudah melahirkan. Pada kasus ini biasanya sapi masih mau makan. Penanganan yang tepat akan menyelamatkan sapi ini dari pengafkiran.
4. Mastitis, BEF, abses, panaritium dan pneumonia. Mastitis merupakan peradangan pada ambing yang biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri, virus ataupun jamur. Penanganan yang tepat dan cepat sangat dibutuhkan karena ada beberapa kasus bakterial yang menyebabkan ambing tidak bisa berproduksi lagi sampai tidak bisa diobati lagi. Bovine Efemeral Fever di kecamatan getasan kadang dijumpai terutama musim pancaroba, kasus ini merupakan infeksi viral sehingga pengobatannya berdasarkan simtomatisnya saja, antibiotik bisa digunakan bila diperlukan untuk mencegah infeksi sekunder. Abses dan panaritium merupakan kasus penyakit yang menyerang bagian kaki hewan yang terjadi karena adanya luka yang berkembang karena infeksi bakteri. Pengobatan dengan membersihkan luka dan pemberian obat antibiotik parenteral dan spray. Sedangkan pneumonia adalah keradangan pada paru-paru bisa terjadi karena infeksi bakteri, virus atau parasit.

Pelayanan Reproduksi

Kegiatan pelayanan reproduksi di Puskeswan Getasan kecamatan getasan meliputi: Inseminasi Buatan(IB), Pemeriksaan kebuntingan (PKB) dan penanggulangan gangguan reproduksi. Kegiatan pelayanan kasus reproduksi di Puskeswan Getasan dapat dilihat pada tabel:
1. Inseminasi Buatan (IB), di wilayah kerja puskeswan Getasan hampir seluruh proses perkawinan sapi sudah menggunakan teknik Inseminasi Buatan. Diharapkan dengan IB akan dihasilkan sapi-sapi yang mempunyai mutu genetik lebih baik karena pejantan yang dipakai untuk pembuatan straw sudah dipilih dari sapi FH yang unggul. Pada bulan juni 2010 Puskeswan Getasan melayani Inseminasi Buatan dengan total akseptor 246 yang dilakukan oleh inseminator, paramedis ataupun dokter hewan.
2. Pemeriksaan Kebuntingan (PKB). Pelayanan reproduksi lainnya yaitu PKB, pada bulan juni dilakukan PKB sebanyak 10 ekor dengan rincian 3 ekor positif dan 7 ekor negatif. Pelayanan ini dilakukan ketika peternak meminta diperiksa status reproduksinya apakah sudah bunting atau belum.
3. Hipofungsi dan endometritis. Hipofungsi ovarium merupakan gangguan reproduksi dengan gejala: anestrus, ovari kecil. Treament yang tepat adalah pemberian preparat hCG, GnRH atau pemasangan CIDR, tetapi karena mahalnya obat-obat ini sehingga peternak sebagian besar tidak mampu untuk membayarnya. Injeksi estrogen diharapkan akan terjadi estrus walaupun tidak ada ovulasi diharapkan bisa menggertak adanya siklus estrus selanjutnya. Diharapkan ada sedikit bantuan obat-obatan dari pemerintah.
Endometritis adalah peradangan pada endometrium yang bisa disebabkan oleh bakteri, virus, jamur atau protozoa dengan gejala: anestrus, keluar mucus kotor kadang bercampur nanah biasanya terjadi setelah distokia, retensi plasenta dan penanganan kelahiran yang kurang baik. Treatment yang baik dengan cara irigasi uterus dan pemberian antibiotik intra uterus contoh pemberian povidon Iodine 2 % 50 ml dan antibiotik golongan penicillin dan streptomicin.
4. Distokia dan post partus. Distokia adalah proses kesulitan dalam melahirkan fetus karena beberapa sebab oversize fetus, semitnya jalan lahir, malposisi ataupun cacat fetus dan lain sebagiannya. Pada kasus bulan juni distokia terjadi karena fetus mal posisi dan sudah mati, reposisi dan retraksi sehingga fetus bisa dikeluarkan. Pemberian antibiotik secara parenteral dan multivitamin seperti perlakuan pengobatan post partus biasa.
5. Retensi plasenta dan prolap uterus. Retensi plasenta adalah peristiwa dimana plasenta tertinggal di uterus lebih dari 6 jam. Pengeluaran plasenta secara manual masih menjadi pilihan petugas walaupun ada teori yang mengatakan tidak usah dikeluarkan karena plasenta kan dikeluarkan sebagai locia. Prolap uterus atau keluarnya saluran reproduksi setelah beranak karena sapi mengejan terlalu kuat. Memasukkan kembali dan reposisi uterus ditempanya serta penjahitan vulva untuk menjaga keluarnya kembali uterus apabila sapi mengejan kembali. Pemberian injeksi antibiotik dan analgesik-anti piretik dan juga bolus antibakteri intrauterus, pengambilan benang di vulva bisa diambil 2 minggu kemudian dan diberi obat luar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...