Senin, 14 November 2011

Simalakama oh tanaman tembelekan/Lantana camara

Sumber 3 gambar banyumentah

Pagi tadi saya dapat telpon dari teman saya yang berada di Kalimantan mengabarkan bahwa sapi peternak di daerah dia bertugas sakit dengan gejala kulit mengelupas di bagian besar tubuhnya, tidak mau makan, tidak bisa berdiri, diare dan lemah dan sapi lain juga menderita sakit seperti itu berjumlah 6 ekor dengan derajat sakit yang berbeda-beda. Kemudian saya teringat dengan kasus teman lainnya bulan lalu di facebook yang meng upload foto kasus yang hampir sama dengan cerita teman saya tadi. Akhirnya saya mempunyai kesimpulan bahwa sapi itu keracunan tanaman yang namanya tembelakan klo orang jawa bilang atau tanaman lantana camara.







Setelah saya googling hasilnya seperti dibawah ini :



dari: http://ntb.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=380:waspadai-saliara-lantana-camara&catid=4:info-aktual&Itemid=5

Waspadai Saliara (Lantana camara) PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Luh Gde Sri Astiti
Rabu, 16 Maret 2011 07:05

Tanaman ini merupakan tanaman perdu dan banyak dijumpai pada lahan penggembalaan. Saliara (L. camara) atau Dilem (Bahasa : Sasak) dapat hidup pada berbagai kondisi lahan baik itu lahan yang kering dan miskin hara bahkan di tanah yang tandus sekalipun. Saat ini L. camara banyak digunakan sebagai tanaman hias karena memiliki bunga yang beraneka warna (merah, putih, kuning, dan ungu). Bentuk daun bergerigi dengan permukaan yang kasar. Daun dan bunganya berbau, sehingga biasanya ternak tidak menyukainya, Tanaman ini biasanya termakan oleh ternak dengan tidak sengaja atau pada saat musim kering disaat persediaan pakan untuk ternak jumlahnya sangat terbatas. Daun tanaman ini mengandung zat yang disebut Lantadine yang bersifat racun pada sapi. Sapi yang terlanjur memakan tanaman ini akan menunjukkan gejala kekuningan yang berat (jaundice), peka terhadap cahaya matahari, peradangan kulit yang berisifat simetris mulai dari yang paling ringan sampai berat terutama pada bagian tubuh yang banyak terkena sinar matahari, kehilangan nafsu makan, diare, gelisah, ambruk, dan pada umumnya tidak menyebabkan kematian. Apabila sapi memakan tanaman ini dalam jumlah banyak dapat menyebabkan kematian dalam waktu beberapa hari setelah munculnya gejala klinis karena sapi mengalami peradangan lambung dan usus (gastroenteritis). Penyakit akibat memakan tanaman L. camara atau tanaman lain yang mengandung Lantadine dikenal dengan nama Penyakit Bali ziekta. (Luh Gde Sri Astiti)

Sumber: http://bull79.wordpress.com/2010/08/04/memberantas-penggerek-dengan-tembelekan/comment-page-1/#comment-62

Apakah anda termasuk orang yang sedang bingung bagaimana cara mengatasi serangan hama penggerek? adalah Dodin Koswanudin dan Harnoto peneliti dari Balai Besar Penelitian Dan Pengembangan Bioteknologi Sumberdaya Genetik Pertanian Bogor menunjukkan hasil risetnya bahwasanya Tembelekan lantana Camara ampuh mengusir kutu daun Aphis Cracivora dan penggerek polong Maruca testulalis pada tanaman kacang hijau. Hal tersebut terjadi berkat kandungan Lantadene A dalam biji tembelekan. Proses pembuatannya cukup mudah, yaitu 4 gram ekstrak biji tembelekan dicampur dalam 1 liter air. selanjutnya 10 ml larutan disemprotkan pada tiap tanaman. Dari hasil riset dan aplikasi dilapangan dapat menimbulkan kematian pada nimfa sebanyak 60% dan larva penggerek polong sebesar 70%.

Bunga Hutan Yang Berpotensi Lantana camara linn

Sumber: http://my.opera.com/Indonesian%20Natur/blog/2009/10/11/lantana-camara

merupakan tanaman perdu dengan tinggi 05 - 1,5 m. Tanaman ini berasal dari Amerika tropis dan tumbuh baik di daerah tropis. Tanaman ini tumbuh tersebar di daerah tropis hampir seluruh benua. Dan dapat tumbuh hingga ketinggian 1700 m dpl.
Lantana camara linn
merupakan tanaman tahunan dengan ciri ciri: Kulit batang berwarna coklat dengan permukaan kasar. Daun berwarna hijau berbentuk oval dengan pinggir daun bergerigi. Permukaan daun kasar karena terdapat bulu. Kedudukan daun berhadapan dan tulang daun menyirip.
Lantana camara linn
memiliki bunga yang bersifat rasemos dan memiliki warna beraneka ragam, putih, merah muda, jingga, kuning. Dengan demikian tanaman ini memiliki nilai estika yg dapat di gunakan sebagai tanaman hias. Di beberapa negara tanaman ini sudah banyak di hibridakan sebagai tanaman hias.

Lantana camara linn
memiliki buah seperti buah buni. Bewarna hijau dan bila telah matang berwarna hitam. Tanaman ini dapat dikembang biakkan melalui biji dan stek.
Selain sebagai tanaman hias, Lantana camara linn juga berpotensi sebagai bio insektisida dan obat. Berdasarkan hasil penelitian dari ekstrak daun dan bunga di dapati senyawa senyawa yang berfungsi sebagai insektisidal, fungisidal, nematisidal, dan anti mikrobakterial. Senyawa senyawa itu yakni. Humule (minyak asiri), Lantadene A, Lantadene B, Lantanolic acid, Lantic acid, b-coryophylle, g-terpidene, a-pinene, dan r-cynaene. Senyawa triterpenoid dari tanaman ini mampu menghambat pertumbuhan bakteri staphylococus aureus yang merupakan bakteri patogen pada penyakit saluran pernafasan.

Di Indonesia Lantana camara linn biasa di sebut dengan nama kembang telek. Wild sage (english), Cambara de espinto (brazil), Cuarquito (nicaragua), flowered sage (jamaica), Pha-ka krong (thailand) dan achman (cambodia). Tanaman ini terdiri dari 650 varietas yg tersebar di 60 negara

Nah dari paparan diatas tanaman ini sebenarnya bisa dimanfaatkan tetapi memang harus diteliti lebih lanjut karena memang sifat racunnya yang tinggi juga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...