Sabtu, 31 Maret 2012

Deklarasi Asosiasi Petenak Kelinci Indonesia (APKIN)

foto herlambang prastSabtu 8 Mei 2010 Gedung Indonesia Menggugat (landraad) Jalan Perintis Kemerdekaan Bandung. Sebelum matahari beranjak meninggi orang-orang sudah berkumpul. Ada lebih 250 orang yang telah datang di sana. Suasana seperti ini sebenarnya bukan hal yang aneh di gedung bekas Ir Soekarno dkk dulu diadili oleh Pemerintah Hindia Belanda. Tetapi menjadi sesuatu yang unik pada pagi itu karena kerumunan tersebut bukan acara politik, budaya, sastra atau seminar, melainkan urusan kelinci, atau lebih tepatnya Deklarasi Asosiasi Peternak Kelinci Indonesia (APKIN).

Para panitia yang kebanyakan anak-anak muda berseragam kaos putih berlogo kelinci melingkar warna merah itu adalah mereka para pecinta kelinci, pemelihara dan peternak. Sebagian besar adalah orang-orang Lembang Bandung, sebagian lain datang dari Pangalengan, Ciwidey, Bogor, Depok, Tangerang, Magelang, Yogyakarta, Bali, dan daerah-daerah lain.

Pembentukan APKIN, menurut Asep Sutisna (peternak kelinci dari Lembang) dilatarbekalangi oleh kebutuhan akan pentingnya untuk memajukan peternakan kelinci di Indonesia. Kelinci yang selama ini belum begitu menjadi hewan popular sudah mulai diminati oleh banyak orang, terutama sebagai pemeliharaan yang berorientasi pada wirausaha masyarakat.

“Karena peminat kelinci selama tiga tahun terakhir ini sangat tinggi dan setiap waktu banyak peternak pemula yang menginginkan penyuluhan, training dan komunikasi,” maka kami mencoba melayani mereka dengan cara yang lebih baik, yakni berorganisasi, “ujarnya.

Siang terus beranjak. Keramaian memuncak pada pukul 10:00 saat acara dibuka. Sebelum resmi deklarasi, beberapa orator secara singkat menyampaikan beberapa pesan dan kesan tentang perkelincian. Para orator di antara ialah Bupati Bandung Barat, Dirjen Peternakan Republik Indonesia, Mamur Suriatmadja (Promotor Kelinci Nasional era 1980an), Asep Sutisna (Ketua Terpilih APKIN) dan Rieke Diah Pitaloka (Ketua Dewan Penasehat terpilih APKIN).

“Memperhatikan bahwa kelinci ternyata memiliki potensi yang luar biasa, saya ikut tergerak untuk memikirkan masalah ini. Selama perjalanan saya mengunjungi konstituen saya di Daerah Pemilihan legislatif saya di Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Bandung saya melihat kelinci layak diangkat menjadi salahsatu basis untuk memerangi gizi buruk, mengentaskan kemiskinan dan kegiatan positif masyarakat berkaitan dengan kecintaan terhadap satwa. Bahkan kelinci sangat baik sebagai sarana pembelajaran terhadap anak-anak untuk mengenal sisi kehidupan manusia dan hewan,” ujar Rieke.

Tepat pukul 12:30 deklarasi yang berlangsung sederhana namun meriah itu ditutup untuk kemudian dilanjut acara konferensi pers dan temu wicara sambil menikmati pentas musik dan pameran kelinci hias di ruang samping Gedung Indonesia Menggugat. (Prabu Ns)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...