Minggu, 02 Januari 2011

operasi displasia di wilayah puskeswan Getasan



Salahsatu cara penanganan kasus displasia abomasum pada sapi adalah dengan jalan operasi. Ada 3 macam displasia abomasum yaitu displasia abomasum kanan atau Right displaced abomasum, displasia abomasum kiri atau left displaced abomasum dan perpuntiran abomasum atau abomasal volvulus. Pada tanggal 30 Nopember 2010 sekitar pukul 11.00 wib di dusun krangkeng, desa batur, kec. Getasan, Kab. Semarang dilakukan penanganan kasus left displaced abomasum (LDA) pada seekor sapi betina yang hamil 5 bulan dan mengalami LDA dengan jalan operasi. Pengertian dari LDA adalah bergesernya abomasum kearah kiri dari posisi normalnya karena terbentuk gas dan mengembung ke arah kiri sehingga terjepit antara dinding abdomen dan rumen. Gangguan ini termasuk dalam salahsatu penyakit metabolik pada sapi. Displasia biasanya sering terjadi pada sapi perah dengan asupan konsentrat tinggi, terjadi setelah beranak , bisa terjadi karena kelanjutan dari hipokalsemia atau ketosis dan jarang terjadi pada sapi pedaging atau pada masa bunting. Gejala klinis yang bisa dilihat sapi tiba-tiba tidak mau makan, penurunan produksi susu, kuantitas feses sedikit atau terjadi diare, dan yang paling bisa untuk memastikan bahwa sapi tersebut mengalami displasia abomasum adalah dengan cara auskultasi menggunakan stetoskop dan perkusi didaerah fossa paralumbar bagian kiri akan terdengar suara ping (ping Sound). Prinsip Penanganan kasus ini adalah reposisi dan menstabilkan posisi abomasum. Ada beberapa cara penanganan kasus ini antara lain dengan teknik rolling atau sapi digulingkan tetapi hasilnya kurang maksimal karena bisa kambuh lagi dan tidak bisa dilakukan pada kasus RDA atau volvulus abomasum. Selain cara tersebut bisa juga dengan cara operasi dengan cara Laparotomi flank kanan. Penanganan kasus di lapangan di wilayah kerja Puskeswan Getasan, kec. Getasan, Kab. Semarang pada tanggal 30 Nopember 2010 merupakan penanganan kasus LDA dengan cara operatif pertama kali di Kab. Semarang yang dilakukan oleh Tim Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Semarang. Selaku operator drh. Harmanto yang sekarang menjabat sebagai Tenaga Medis Veteriner Puskeswan Getasan yang berstatus THL Medik Vetreriner Kementan tahun 2010, selaku co-operator drh. Susilowati, selaku equipment Bp. Imam Haryadi paramedik vet. Semarang. Hadir juga counterpart JICA drh. Yusnita Sari selaku pembimbing dan juga dihadiri plh. Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan dan Perikanan, kab. Semarang drh. Sri Hartiyani. Langkah-langkahnya antara lain mempersiapkan peralatan: Nedlle holder, Gunting, nedlle dengan ujung bulat dan segitiga, forsep aligator, arteri klem, blade, scalpel, pinset. Peralatan pendukung: selang untuk defloating, benang jahit(absorbable, non-absorbable), glove operasi dan long plastic glove dan kapas. Lokal anastesia berupa Lidocain 2% sebanyak 50-100ml, desinfektan berupa Povidone Iodine, Alkohol 70%, Antibiotik Penicillin dan NaCl fisiologis 1 liter. Selanjutnya mempersiapkan sapi di restrain dan di jepit, cuci dengan sabun area flank kanan, pencukuran rambut di daerah flank kanan kira-kira 25cm x 25 cm, lokal anastesia 2% lidocain, injeksi Penicillin Intra muskuler di daerah Pantat, Disinfeksi dengan Povidon Iodine dan alkohol 3 kali bergantian didaerah flank kanan yang sudah dicukur. Semua langkah tersebut sebaiknya dilakukan secara berurutan, setelah terbius iris kulit dengan pisau scalpel 20-25 cm arah vertikal flank, sayat otot ada 3 lapis, setelah terlihat peritonium potong dan lebarkan dengan gunting maka terbukalah rongga perut. Langkah berikutnya adalah eksplorasi dengan tangan bersarungtangan panjang daerah rongga abdomen dan cari abomasum lakukan defloating dengan cara tusukan jarum yang dihubungkan selang ke abomasum sampai gas yang ada di abomasum keluar semua ditadai dengan berhentinya gelembung udara pada ember berisi air yang terhubung selang defloating. Kemudian reposisi abomasum dan cari bagian pilorus tarik omentum ke arah lubang incisi keluarkan. Jait 2 benang non-absorbable, atas bawah omentum dan tautkan ke muskulus dekat incisi. Masukan NaCl Fisiologis 500ml+ Penicillin 4.5m.iu ke dalam rongga abdomen, jait peritonium dengan benang yang bisa terabsorbsi, cuci dengan NaCl Fisiologis + Penicilline 1.5m.iu, jait otot 1 atau 2 kali yang terakhir jait kulit dengan benang non-absorbable dan oleskan kapas ber iodine. Setelah selesai operasi perawatan pasca operasi juga harus diperhatikan meliputi: injeksi Penicillin 6m.iu selama 3 hari, infus glukosa bila nafsu makan turun, lepas benang setelah 10-14 hari, pemberian pakan rumpit jangan langsung diberi konsentrat, pemberian konsentrat bertahap.

Operasi displasia ini dikenalkan oleh JICA Expert Minami Shigeru DVM dan diajarkan melalui program TOT (Training of Trainer ) JICA the project for Improvement of Countermeasures on the Productive Disease of Dairy Cattle in Indonesia bekerjasama oleh DITJENAK dan DISNAKAN JABAR. Dan pada tanggal 09 Nopember 2010, JICA Expert Minami Shigeru DVM didampingi perwakilan JICA Indonesia drh. Pammusureng dan Counterpart JICA drh. Teguh santoso berkenan hadir di salahsatu rumah ketua kelompok dsn. Ngringin, ds. Batur, Kc. Getasan dalam acara Workshop atau penyuluhan tentang penanganan penyakit metabolik pada sapi perah yang bekerjasama dengan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Semarang.

Salahsatu kendala dalam penanganan kasus ini adalah biaya yang harus dikeluarkan untuk operasi ini relatife mahal sehingga peternak masih berfikir berkali-kali untuk memutuskan sapi miliknya yang terkena displasia abomasums dioperasi atau tidak. Dan juga peternak masih belum percaya 100% bila dengan jalan ini sapinya bisa sembuh karena di wilayah Kec. Getasan atau kab. Semarang baru kali ini dilakukan operasi tidak seperti di Pengalengan, sumedang dan Lembang Bandung yang sudah banyak kasus displasia abomasum yang tertangani dengan hasil yang memuaskan dengan jalan operasi. Diharapkan kedepan dengan sosialisasi dan penyuluhan tentang penanganan kasus ini bisa menjadi solusi untuk masyarakat sebagai penanganan alternative kasus displasia abomasum yang selama ini hanya berakhir di rumah potong hewan. Pemerintah setempat juga diharapkan berpartisipasi aktif dalam sosialisasi dan juga peningkatan kemampuan dokter hewan yang wilayah kerjanya menangani kesehatan sapi perah karena kasus ini biasa terjadi pada peternakan sapi perah. Untuk mencegah atau meminimalkan kejadian displasia abomasum dengan cara pemberian konsentrat harus dikurangi ketika 2-4 minggu setelah melahirkan dan pemberian hijauan ditambah, frekuensi pemberian sesering mungkin dan jaga jangan sampai kegemukan saat melahirkan.

Sumber referensi: Training Material TOT JICA The Fourth Metabolik Diseases Control & Treatment Program

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...